Tampilkan postingan dengan label Tafsir Surah Al-Fatihah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Surah Al-Fatihah. Tampilkan semua postingan

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH (Ayat ke 1)



{الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِين}
“Segala pujian yang mutlak hanyalah milik Allah Ta’ala Rabb semesta alam.
Pujian yang mutlak, yakni semua nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya adalah terpuji secara mutlak, tidak ada celaan atau kekurangan sedikitpun padanya.
Kalimat ‘al-Hamdu’ memiliki kandungan makna yang dalam, yaitu mensifati Allah dengan segala kesempurnaan dengan diiringi kecintaan dan pengagungan.
Kalimat ‘Rabb’ artinya pencipta, pemilik, pemelihara dan pengatur.
Kalimat ‘Alamin’ artinya segala sesuatu yang ada selain Allah. Ini adalah pendapat Qatadah, dan dipilih oleh al-Qurthubi dan Ibnu Katsir.
Allah adalah Rabb bagi alam semesta, yakni Allah yang menciptakan, memiliki, memelihara dan mengatur seluruh alam semesta. Hal ini sebagaimana Allah firmankan;

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH



Membaca Basmalah Di Awal Surat

{بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

Aku memulai dengan menyebut nama Allah, meminta pertolongan kepada-Nya dengan nama-nama-Nya yang Agung dalam segala urusanku. Dialah Rabbku, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah yang Maha Dermawan dan Pemilik segala keutamaan. Dia Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya. Dia-lah yang memiliki rahmat yang luas untuk diberikan kepada makhluk-Nya yang dikehendaki.

Kalimat “”
Adalah nama yang khusus bagi Allah saja, tidak boleh selain-Nya menamai dirinya dengan nama tersebut. Tidak diketahui baik di zaman Jahiliyah maupun setelah datangnya Islam ada yang diberi nama dengan nama Allah. Hal ini karena mereka tahu, bahwa lafazh Allah adalah nama khusus untuk Allah Ta’ala semata.

Kalimat “الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ”
Kedua kalimat tersebut terbentuk dari kalimat ar-Rahmah.

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH (Bagian Kedua)



Membaca Ta’awudz Sebelum Membaca al-Quran

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk yang akan memudaratkan agamaku atau duniaku, atau yang akan menghalangiku dari ketaatan kepada Allah atau yang akan mejerumuskanku kedalam perkara-perkara yang dilarang Allah. Sesungguhnya tidak ada yang bisa melindungi kita dari godaan setan kecuali Allah Ta’ala.

Disyariatkan sebelum kita membaca al-Quran untuk membaca Ta’awudz. Adapun dari sisi hukumnya, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa hukumnya wajib membacanya sebelum membaca al-Quran. Hal ini berdasarkan zhahir ayat berlafazh perintah;

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH (MUQADDIMAH)



 Surat al-Fatihah menurut pendapat yang terpilih adalah Makkiyah.

Apakah perbedaan antara surat al-Makkiyah dan al-Madaniyyah?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Wallahu a’alam pendapat yang terpilih adalah setiap surat yang turun sebelum hijrah maka dinamakan al-Makkiyyah, adapun setiap surat yang turun setelah hijrah, maka dinamakan al-Madaniyyah. Yang menjadi tinjauan adalah waktu turunnya, bukan tempat turunnya. Pendapat ini dipilih asy-Syaikh al-‘Utsaimin.

Faedah:

Disebutkan oleh asy-Syaikh al-‘Utsaimin bahwa mayoritas surat-surat al-Madaniyyah lebih banyak terperinci isinya daripada surat-surat al-Makkiyyah. Perincian tersebut pada penjelasan cabang-cabang Islam, bukan pada pokoknya. Dan juga mayoritas isinya lebih sedikit penegasannya dalam peringatan, nasehat dan ancaman, karena yang diajak bicara adalah kaum yang telah beriman dan bertauhid serta telah menegakkan pokok-pokok dasar agama. Tidak tersisa padanya kecuali penjelasan tentang cabang-cabang agama, agar hal ini diketahui oleh mereka (orang-orang yang beriman). Dan juga mayoritasnya ayat-ayatnya lebih panjang dibanding surat-surat al-Makiyyah. [lihat muqaddimah tafsir al-Baqarah karya asy-Syaikh al-‘Utsaimin]