PELAJARAN NAHWU DARI KITAB AL AJURUMIYAH (Pelajaran Ketiga Puluh Sembilan)



LANJUTAN
BAB ‘AMIL-‘AMIL NASHAB
(Huruf-huruf yang menashabkan)
MATAN:
قَالَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
فالنَّوَاصِبُ عَشَرَةٌ، وَهِيَ
أَنْ، وَلَنْ، وَإِذَنْ، وَكَيْ، وَلَامُ كَيْ، وَلَامُ الْجُحُودِ، وَحَتَّى، وَالْجَوَابُ بِالْفَاءِ وَالْوَاوِ, وَأَوْ
Berkata Penulis Rahimahullah
 ‘Amil Nashab (huruf yang menashabkan) ada sepuluh, yaitu;

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK (Hadits Kesebelas)


NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENYALAMI ANAK-ANAK KECIL
عَنْ سَيَّارٍ، قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، فَمَرَّ بِصِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ، وَحَدَّثَ ثَابِتٌ أَنَّهُ كَانَ يَمْشِي مَعَ أَنَسٍ، فَمَرَّ بِصِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ، وَحَدَّثَ أَنَسٌ أَنَّهُ كَانَ يَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَمَرَّ بِصِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ»
Dari Sayyar, ia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Tsabit al-Bunani, kemudian kami melewati anak-anak kecil. Maka dia (Tsabit) bercerita bahwa dia pernah berjalan bersama Anas, kemudian melewati anak-anak kecil dan dia mengucapkan salam kepada mereka. Demikian juga Anas bercerita bahwa dia pernah berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian melewati anak-anak kecil, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam kepada mereka.”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

KAEDAH-KAEDA FIQHIYAH DARI KITAB AL-MANZHUMAH AL-QAWAIDUL FIQHIYAH (Pertemuan Kesebelas)



BAIT KE 11
قال العلامة السعدي رحمه الله تعالى:
النِّيَّةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ الْعَمَلْ ...
بِهَا الصَّلَاحُ وَالْفَسَادُ لِلْعَمَلْ.
Berkata al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah
“Niat adalah syarat untuk semua amalan …
Dengan niat, menentukan baik dan rusaknya amalan.”

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH (Pelajaran Kedua Puluh Empat)



MATAN
قَالَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ
(فَإِذَا قِيلَ لَكَ): مَا الأُصُولُ الثَّلاثَةُ التِي يَجِبُ عَلَى الإِنْسَانِ مَعْرِفَتُهَا؟ فَقُلْ: مَعْرِفَةُ الْعَبْدِ رَبَّهُ، وَدِينَهُ وَنَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسلم
Berkata Penulis rahimahullah:
“Maka apabila kamu ditanya, apakah tiga landasan pokok yang wajib diketahui oleh (setiap) manusia?
Maka jawablah, seorang hamba mengenal Rabbnya, agamanya dan Nabinya, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam


SILSILAH KESABARAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU (Bagian Kesembilan)



Khalaf bin Hisyam rahimahullah berkata:
“Aku mendapatkan satu bab dari ilmu nahwu yang sukar dipecahkan. Lalu aku habiskan 80 ribu dirham hingga aku dapat menguasainya.”
Sumber: Siyar A’lamun Nubalaa 10/578
Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah berkata:
“Sungguh aku tidak pernah alpa siang dan malam dalam mencari satu hadits.”
Sumber: al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabus Sami’ 2/226
Waffaqallahul jami’ likulli khairin.


Alih bahasa: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 15 Dzulhijjah 1436/ 29 September 2015_di kota Ambon Manise.

BIMBINGAN ULAMA DISAAT FITNAH MELANDA

Bersama: Fadhilatusy Syaikh Shaleh al-Fauzan Hafizhahullah
Soal 5 :
Sebagian (manusia) menganggap remeh permasalahan memberontak kepada pemerintah dengan dalih apa yang pernah terjadi pada masa pemerintahan al-Hajjaj. Orang-orang memberontak dengan dipimpin Sa’id bin Jubair terhadap pemerintahan al-Hajjaj. Bagaimana jawaban untuk yang demikian itu? Mohon berikan kami fatwa dan semoga anda diberi pahala.
Jawaban:
Perkataan tersebut tidak ada asal muasalnya sama sekali. Kaum muslimin disaat itu senantiasa mendengar dan taat, meskipun sempat terjadi perselisihan pada beberapa waktu. Meskipun demikian, mayoritas kaum muslimin senantiasa mendengar dan taat (kepada pemerintahnya). Walaupun terjadi dari sebagian mereka perselisihan dan hasutan, namun mayoritas mereka mengingkari dan memeranginya. Adapun Sa’id bin Jubair rahimahullah termasuk salah satu imam para tabi’in yang terbunuh secara zalim. Dan kalau seandainya benar beliau memberontak, maka itu ijtihad yang tidak disepakati. Selesai

PELAJARAN NAHWU DARI KITAB AL AJURUMIYAH (Pelajaran Ketiga Puluh Enam)



LANJUTAN
BAB ‘AMIL-‘AMIL NASHAB
(Huruf-huruf yang menashabkan)

MATAN:

 قَالَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
فالنَّوَاصِبُ عَشَرَةٌ، وَهِيَ
أَنْ، وَلَنْ، وَإِذَنْ، وَكَيْ، وَلَامُ كَيْ، وَلَامُ الْجُحُودِ، وَحَتَّى، وَالْجَوَابُ بِالْفَاءِ وَالْوَاوِ, وَأَوْ.

Berkata penulis rahimahullah:

‘Amil Nashab (huruf yang menashabkan) ada sepuluh, yaitu;

PELAJARAN NAHWU DARI KITAB AL AJURUMIYAH (Pelajaran Ketiga Puluh Delapan)



LANJUTAN
BAB ‘AMIL-‘AMIL NASHAB
(Huruf-huruf yang menashabkan)


MATAN:

هُ اللهُ تَعَالَى قَالَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَ
فالنَّوَاصِبُ عَشَرَةٌ، وَهِيَ
أَنْ، وَلَنْ، وَإِذَنْ، وَكَيْ، وَلَامُ كَيْ، وَلَامُ الْجُحُودِ، وَحَتَّى، وَالْجَوَابُ بِالْفَاءِ وَالْوَاوِ, وَأَوْ.

Berkata penulis rahimahullah:

‘Amil Nashab (huruf yang menashabkan) ada sepuluh, yaitu;

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK (Hadits Kesepuluh)


NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENYUAPI ANAK BAYI DENGAN KUNYAHAN KURMA

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَدَفَعَهُ إِلَيَّ»، وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِي مُوسَى.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim. Beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku.” Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa. [HR. al-Bukhari]

SILSILAH KESABARAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU (Bagian Kedelapan)



Umar bin Hafsh al-Asyqar rahimahullah berkata:

“Dahulu aku pernah bersama-sama al-Bukhari di kota Bashrah menulis (hadist). Kemudian kami kehilangan dirinya selama beberapa hari. Lalu kami mendapatkannya dalam sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Sungguh dia telah kehabisan perbekalan yang dia miliki. Kami mengumpulkan beberapa dirham untuknya dan kami memberikan kepadanya pakaian.”

Sumber: Siyar A’lamun Nubalaa 12/448 dan Tarikh Dimasqi 52/58

Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sungguh kami telah mendapatkan diri-diri kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan tidak memiliki makanan sama sekali kecuali dedaunan, sampai-sampai salah seorang dari kami makan (dedaunan) seperti kambing sedang makan.”

Sumber: Hilyahtul Auliya 1/92

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
Alih bahasa: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 15 Dzulhijjah 1436/ 29 September 2015_di kota Ambon Manise.